Kamis, 18 Juli 2024

Diantara Kesesatan Ajaran Syi'ah


 

Diantara Kesesatan Ajaran Syi'ah

1. Mengutamakan Ali bin Abu Thalib melebihi semua Shahabat Nabi (termasuk Abu Bakr dan Umar). Bahkan Syiah Rafidhah mengkafirkan Abu Bakr, Umar, Utsman dan mayoritas para Shahabat Nabi.
2. Membenarkan dusta dan taqiyyah (ucapan dan perbuatan beda dengan isi hati).
3. Mensyariatkan niyahah pada hari Asyura.
4. Mencela para aimah madzhab Ahlus Sunnah semisal imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Asy Syafi'i dan imam Ahmad serta menghukumi keempat imam tersebut sebagai ahlul bid'ah.
5. Tidak mewajibkan shalat Jum'at selama tidak ada imam Syiah.
6. Mengharamkan shalat tarawih berjamaah.
7. Mengharamkan zakat fithri dengan 1 sho' "makanan" (صَاعًا مِنْ طَعَامٍ).
8. Membolehkan nikah mut'ah (nikah kontrak).
9. Membuang hadits shahih jika hadits shahih tersebut menyelisihi ajaran dan hawa nafsunya.
10. Membolehkan menyusup dan berpura-pura Islam ataupun mengikuti manhaj Salafush Sholih untuk merusak ajaran Islam dan madzhab ahlus Sunnah Wal Jama'ah dari dalam.
11. Menyamakan kaum muslimin yang berkiblat Ka'bah dengan kuburiyun. Tujuannya agar kaum muslimin ragu, tidak berkiblat ataupun mengajak kaum muslimin pindah kiblat ke Karbala.?
12. Kepercayaan penganutnya terhadap dua belas pemimpin yang ditahbiskan secara ilahi, yang dikenal sebagai Dua Belas Imam, dan keyakinan mereka bahwa Imam terakhir, Imam al-Mahdi, hidup dalam kegaiban dan akan muncul kembali sebagai Mahdi yang dijanjikan.
13. Menyamakan pembagian tauhid oleh sebagian ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dengan aqidah kafir trinitas. Tujuannya untuk mengkafirkan kaum muslimin.

Selasa, 16 Juli 2024

Kalam Imam Ahmad Rahimahullah Terhadap Syi'ah Rafidhah


 

Kalam Imam Ahmad Rahimahullah Terhadap Syi'ah Rafidhah


وجاء في كتاب السنة للإمام أحمد قوله عن الرافضة : "هم الذين يتبرأون من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ويسبونهم وينتقصونهم ويكفرون الأئمة إلا أربعة: علي وعمار والمقداد وسلمان وليست الرافضة من الإسلام في شيء."
📖  السنة للإمام أحمد ص 82

Dalam kitab Sunnah Imam Ahmad rahimahullah beliau berkata tentang Rafidhah : "Mereka adalah golongan yang berlepas diri dari shahabat Muhammad , dan Syiah Rafidhah mencela, menghina, serta mengkafirkan para shahabat kecuali hanya empat orang saja (yang tidak mereka kafirkan) yaitu: Ali, Ammar, Miqdad dan Salman. Syiah Rafidhah ini sama sekali bukan bagian dari agama Islam."
📖  lihat As-Sunnah, karya Imam Ahmad bin Hanbal : 82

Kalam Imam Asy Syafi’i Terhadap Syi’ah Rafidhah




 


Kalam Imam Asy Syafi’i Terhadap Syi’ah Rafidhah

 
     Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan:

أَفْضَلُ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ

“Manusia paling mulia setelah Rasulullah  adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali” (Ma’rifat Sunan wal Atsar, karya Imam Baihaqi 1/192)

      Inilah akidah Imam Asy Syafi’i rahimahullah. Adapun orang-orang Syi’ah, mereka malah mengkafirkan tiga sahabat Nabi yang paling mulia tersebut selain Ali.

الساجي : حدثنا إبراهيم بن زياد الأبلي ، سمعت البويطي يقول : سألت الشافعي : أصلي خلف الرافضي ؟ قال : لا تصل خلف الرافضي ، ولا القدري ، ولا المرجئ . قلت : صفهم لنا . قال : من قال : الإيمان قول ، فهو مرجئ ، ومن قال : إن أبا بكر وعمر ليسا بإمامين ، فهو رافضي ، ومن جعل المشيئة إلى نفسه ، فهو قدري .
سير أعلام النبلاء، الذهبي (١٠/٣٢)

As-Saji : Ibrahim bin Ziyad Al-Abli memberitahu kami, saya mendengar Al-Buwaithi berkata : “Aku pernah bertanya kepada Imam Asy Syafi’i, apakah boleh aku shalat di belakang orang berpaham (syi’ah) rafidhah?”
Imam Asy Syafi’i menjawab: “Janganlah shalat di belakang orang yang berpaham Syi’ah Rafidhah, atau orang berpaham Qadariyah, atau orang berpaham Murji’ah!”.
Al Buwaithi mengatakan: “Sebutkanlah sifat mereka kepada kami!”
Imam Syafi’i menjawab: “Barangsiapa mengatakan bahwa iman itu perkataan saja, maka ia seorang Murji’ah. Barangsiapa mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar bukan imam, maka ia seorang Syiah Rafidhah. Barangsiapa menjadikan kehendak untuk dirinya, maka ia seorang Qadariyah”
(lihat Siyaru A’lamin Nubala, karya Imam Dzahabi 10/32).

20305 ( أخبرنا ) أبو عبد الله الحسين بن محمد بن فنجويه الدينوري بالدامغان ، ثنا عبد الله بن محمد بن شنبة ، ثنا أبو بكر محمد بن أحمد بن إبراهيم الكرابيسي ، ثنا أبو حاتم الرازي قال : سمعت يونس بن عبد الأعلى يقول : سمعت الشافعي يقول :أجيز شهادة أهل [ ص: 209 ] الأهواء كلهم إلا الرافضة فإنه يشهد بعضهم لبعض.
آداب الشافعي ومناقبه ١٨٩ والسنن الكبرى، البيهقي ١٠/ ٢٠٩.
كتاب السنن الكبرى، البيهقي (١٠/٢٠٩)

Yunus bin Abdul A’la (murid senior Imam Asy  Syafi’i) mengatakan: Aku pernah mendengar Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan:

أجيز شهادة أهل الأهواء كلهم إلا الرافضة, فإنهم يشهد بعضهم لبعض

“Aku membolehkan persaksiannya semua ahli bid’ah, kecuali Syi’ah Rafidhah, karena mereka itu saling memberi ‘kesaksian baik’ antara satu dengan lainnya” (Adab Asy-Syafi'i wa Maniqubuhu 189, As Sunan Al Kubra 10/209)

سمعت يونس بن عبد الأعلى يقول: سمعت الشافعي إذا ذكر الرافضة عابهم أشدّ العيب فيقول: شر عصابة.
كتاب مناقب الشافعي للبيهقي (١/٤٦٨)

Yunus bin Abdul A’la juga mengatakan : "Aku pernah mendengar Imam Syafi’i, bila menyebut kelompok Syiah Rafidhah, beliau mencela mereka dengan celaan yang paling buruk, lalu beliau mengatakan: “mereka itu komplotan yang paling jahat!” (Manaqib Syafi’i, karya Imam Baihaqi 1/468)

وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ قال: سمعت أبا تراب يقول: سمعت محمد بن المنذر يقول: سمعت أبا حاتم الرازي يقول: سمعت حرملة يقول: سمعت الشافعي يقول: لم أر أحداً أشهَد بالزور من الرافضة. (السنن الكبرى ١٠/ ٢٠٨ وآداب الشافعي ومناقبه ١٨٧.)

Harmalah mengatakan: Saya mendengar Asy-Syafi’i berkata: “Saya belum pernah melihat seorang yang memberikan kesaksian palsu selain kaum Syi’ah.”  (lihat As-Sunan Al-Kubra 10/208 dan Adab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu 187.)




Kesesatan Syi’ah Pada Hari ‘Asyura







 

Kesesatan Syi’ah Pada Hari ‘Asyura


Syi'ah Menganggap Bahwa Niyahah Pada Hari 'Asyura Itu Sebagai Ibadah

     Syi'ah menganggap bahwa melukai diri, melakukan niyahah, berpakaian hitam, adalah suatu ibadah mulia. Itulah yang didapati pada mereka di hari Asyura (10 Muharram). Dalam kitab Syiah sendiri disebutkan,

إن اللطم والتطبير ولبس السواد في عاشوراء والنياحة من أعظم القربات للحسين بل هذه الأفعال من الأعمال الممدوحة

“Sesungguhnya menampar, memainkan pisau ke badan, dan mengenakan pakaian hitam di hari Asyura, juga bentuk niyahah bersedih hati saat itu merupakan di antara bentuk ibadah –pendekatan diri- dalam rangka mengenang Al Husain. Bahkan amalan seperti ini termasuk amalan terpuji.” (Lihat Fatawa Muhammad Kasyif Al Ghitho war Ruhaani wat Tibriziy wa Ghoirihim min Maroji’il Imamiyah)

Maka Sebagai Bantahan Atas Kesesatan Syi'ah

✍🏻  Perbuatan Syiah bertentangan dengan perkataan Ahlu Bait yaitu Ali bin Abu Thalib (yang dijadikan imam pertama Syi'ah, Abul Hasan al-Murtadha, 23 SH-40 H) radhiallahu’anhu, berkata:

« ثَلاَثٌ مِنْ أَعْمَالِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَزَالُ فِيْهَا النَّاسُ حَتىَّ تَقُوْمَ السَّاعَةُ: الاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ وَالطَّعْنُ فِيْ الأَنْسَابِ وَالنِّيَاحَةُ عَلىَ الْمَوْتىَ »

“Ada tiga perkara termasuk perbuatan jahiliyah, tidak henti-hentinya manusia berada di dalamnya hingga terjadinya hari kiamat; meminta hujan dengan bintang, mencela nasab, dan niyahah atas mayit.” (lihat Al-Majlisi, Biharul Anwar, (82/101))

✍🏻  Yang terbaik diucapkan ketika terjadi musibah adalah sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ali bin Al Husain, dari kakeknya Rasulullah , ia bersabda,

ما من مسلم يصاب بمصيبة فيتذكرها وإن تقادم عهدها فيحدث لها استرجاعا إلا أعطاه الله من الأجر مثل يوم أصيب بها

“Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rooji’un) melainkan Allah akan memberinya pahala semisal hari ia tertimpa musibah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Demikian nukilan dari Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah, 8: 221.)

✍🏻  Hadits berikut pun menjelaskan bahwa yang dilakukan orang Syiah di hari Asyura termasuk kesesatan. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalan Jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103).

✍🏻  Niyahah termasuk larangan bahkan dosa besar karena diancam dengan hukuman (siksaan) di akhirat kelak. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah  bersabda,

« أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal.” (HR. Muslim no. 934).

✍🏻  Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

فكل مسلم يبنغي له أن يحزنه قَتْلِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَإِنَّهُ مِنْ سَادَاتِ الْمُسْلِمِينَ، وَعُلَمَاءِ الصَّحَابَةِ وَابْنُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي هِيَ أَفْضَلُ بناته، وقد كان عابداً وشجاعاً وسخياً، ولكنه لَا يُحْسِنُ مَا يَفْعَلُهُ الشِّيعَةُ مِنْ إِظْهَارِ الْجَزَعِ وَالْحُزْنِ الَّذِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُ تَصَنُّعٌ وَرِيَاءٌ، وقد كان أبوه أفضل منه فقتل، وَهُمْ لَا يَتَّخِذُونَ مَقْتَلَهُ مَأْتَمًا كَيَوْمِ مَقْتَلِ الْحُسَيْنِ، فَإِنَّ أَبَاهُ قُتِلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ خَارِجٌ إِلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ فِي السَّابِعَ عَشَرَ مِنْ رَمَضَانَ سَنَةَ أَرْبَعِينَ، وَكَذَلِكَ عُثْمَانُ كَانَ أَفْضَلَ مِنْ عَلِيٍّ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَقَدْ قُتِلَ وَهُوَ مَحْصُورٌ فِي دَارِهِ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ مِنْ شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ سَنَةَ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ، وَقَدْ ذُبِحَ مِنَ الْوَرِيدِ إِلَى الوريد، وَلَمْ يَتَّخِذِ النَّاسَ يَوْمَ قَتْلِهِ مَأْتَمًا، وَكَذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ أَفْضَلُ مِنْ عُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، قُتِلَ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ صَلَاةَ الْفَجْرِ ويقرأ القرآن، وَلَمْ يَتَّخِذِ النَّاسُ يَوْمَ مَقْتَلِهِ مَأْتَمًا، وَكَذَلِكَ الصِّدِّيقُ كَانَ أَفْضَلَ مِنْهُ وَلَمْ يَتَّخِذِ النَّاسُ يَوْمَ وَفَاتِهِ مَأْتَمًا، وَرَسُولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدَ وَلَدِ آدَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَقَدْ قَبَضَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ كَمَا مَاتَ الأنبياء قبله، ولم يتخذ أحد يوم موتهم مَأْتَمًا يَفْعَلُونَ فِيهِ مَا يَفْعَلُهُ هَؤُلَاءِ الْجَهَلَةُ مِنَ الرَّافِضَةِ يَوْمَ مَصْرَعِ الْحُسَيْنِ، وَلَا ذَكَرَ أحد أنه ظهر يوم موتهم وقبلهم شئ مِمَّا ادَّعَاهُ هَؤُلَاءِ يَوْمَ مَقْتَلِ الْحُسَيْنِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُتَقَدِّمَةِ، مِثْلَ كُسُوفِ الشَّمْسِ وَالْحُمْرَةِ الَّتِي تَطْلُعُ فِي السَّمَاءِ وَغَيْرِ ذَلِكَ.
وَأَحْسَنُ مَا يُقَالُ عِنْدَ ذِكْرِ هَذِهِ الْمَصَائِبِ وَأَمْثَالِهَا مَا رواه علي بن الحسين عَنْ جَدِّهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيبَةٍ فَيَتَذَكَّرُهَا وَإِنْ تَقَادَمَ عَهْدُهَا فَيُحْدِثُ لَهَا اسْتِرْجَاعًا إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ يوم أصيب منها " [1] .
رواه الإمام أحمد وابن ماجه.
https://lib.eshia.ir/40019/8/221

“Setiap muslim seharusnya bersedih atas terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu karena ia adalah sayyid-nya (penghulunya) kaum muslimin, ulamanya para sahabat dan anak dari putri Rasulullah  yaitu Fathimah yang merupakan puteri terbaik beliau. Husain adalah seorang ahli ibadah, pemberani dan orang yang murah hati. Akan tetapi kesedihan yang ada janganlah dipertontokan seperti yang dilakukan oleh Syi’ah dengan tidak sabar dan bersedih yang semata-mata dibuat-buat dan dengan tujuan riya’ (cari pujian, tidak ikhlas). Padahal ‘Ali bin Abi Tholib lebih utama dari Husain. ‘Ali pun mati terbunuh, namun ia tidak diperlakukan dengan dibuatkan ma’tam (hari duka) sebagaimana hari kematian Husain. ‘Ali terbenuh pada hari Jum’at ketika akan pergi shalat Shubuh pada hari ke-17 Ramadhan tahun 40 H.

Begitu pula ‘Utsman, ia lebih utama daripada ‘Ali bin Abi Tholib menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. ‘Utsman terbunuh ketika ia dikepung di rumahnya pada hari tasyriq dari bulan Dzulhijjah pada tahun 36 H. Walaupun demikian, kematian ‘Utsman tidak dijadikan ma’tam (hari duka). Begitu pula ‘Umar bin Al Khottob, ia lebih utama daripada ‘Utsman dan ‘Ali. Ia mati terbunuh ketika ia sedang shalat Shubuh di mihrab ketika sedang membaca Al Qur’an. Namun, tidak ada yang mengenang hari kematian beliau dengan ma’tam (hari duka). Begitu pula Abu Bakar Ash Shiddiq, ia lebih utama daripada ‘Umar. Kematiannya tidaklah dijadikan ma’tam (hari duka).

Lebih daripada itu Rasulullah , beliau adalah sayyid (penghulu) cucu Adam di dunia dan akhirat. Allah telah mencabut nyawa beliau sebagaimana para nabi sebelumnya juga mati. Namun tidak ada pun yang menjadikan hari kematian beliau sebagaima’tam (hari kesedihan). Kematian beliau tidaklah pernah dirayakan sebagaimana yang dirayakan pada kematin Husain seperti yang dilakukan oleh Rafidhah (Syi’ah) yang jahil. Tidak seorang pun menyebutkan bahwa terjadi sesuatu sebelum atau sesudah hari kematian mereka, seperti apa yang disebutkan Syiah pada hari kematian Husain. Seperti terjadinya gerhana matahari, adanya cahaya merah di langit dan lain-lain.

Yang terbaik diucapkan ketika terjadi musibah semacam ini adalah sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ali bin Al Husain, dari kakeknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda,

ما من مسلم يصاب بمصيبة فيتذكرها وإن تقادم عهدها فيحدث لها استرجاعا إلا أعطاه الله من الأجر مثل يوم أصيب بها

Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rooji’un) melainkan Allah akan memberinya pahala semisal hari ia tertimpa musibah.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Demikian nukilan dari Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah, 8: 221.

Selasa, 10 Muharram 1446 H (16-07-2024 M)


Diantara Kesesatan Ajaran Syi'ah

  Diantara Kesesatan Ajaran Syi'ah 1. Mengutamakan Ali bin Abu Thalib melebihi semua Shahabat Nabi (termasuk Abu Bakr dan Umar). Bahkan ...